Terima kasih, Marley
Karena bersedia aku kendarai tiap hari
Demang Lebar Daun-Plaju
Senin sampai Sabtu
Mengantarku bekerja dan menuntut ilmu
Terima kasih, Marley
Karena konsumsi bensinmu yang hemat
Juga kenalpotmu yang tidak berasap
Dan mesinmu yang tidak berisik
Mendesau-desau seperti angin membelai rimbun bambu
Sengau seperti kekasih terserang flu
Terima kasih, Marley
Dahulu telah bersedia aku bawa pulang
Tiga-empat bulan yang lalu dari bengkel Mas Pur
Walau lampu sein belakangmu hilang satu
Spion dan legshieldmu entah di mana
Bensin menetes dari karburatormu
Jokmu terlalu tipis
Tapi tidak mengapa
Semuanya bisa diperbaiki sama-sama
Pelan-pelan
Tidak ada yang sempurna, bukan?
Terima kasih, Marley
Karena lampu depanmu yang bundar
teduh jelita
Juga bentukmu yang sederhana namun cantik
Desainmu bergaris halus ternyata tangguh
Terbukti oleh waktu
sejak 1980, tahun pembuatanmu
Terima kasih, Marley
Tidak salah aku memilihmu
Walau karena terbatas kemampuan dompetku
Tapi apalagi yang aku cari?
Benar kau tidak sefuturistik sepeda motor terkini
Benar kapasitas mesinmu hanya 79 cc saja
Benar lajumu maksimal kira-kira 50 km/jam saja
Tapi apalagi yang aku cari?
Kau tidak perlu aku cicil pembayarannya tiap bulan
Kau hemat bahan bakar
Tanjakan Jembatan Ampera bisa kau lalui, pelan tapi pasti
Kau tidak banyak meminta
Terima kasih, Marley
Akan aku rawat dirimu sampai puluhan tahun lagi
Bila umur ini diberi
Palembang, 25 Juli 2010, dari melihat-lihat Kampung Kapitan 7 Ulu
“Kuberi dia nama Marley, sebab C70 adalah legenda, seperti Uncle Bob. Tangguh. Dan juga cantik; menurut saya. Cantik kan relatif ya”.























July 27, 2010 at 9:38 am
bumblebee nya mana?
July 27, 2010 at 11:47 am
baik2 kabarnya, ger. bumblebee dipakai hudha. kasihan, kalau jalan dari kost2an bisa jadi kurus dia. hehehe.
kalau dia sudah beli sepeda, baru pakai bumblebee lagi. nantinya si marley cuma buat kuliah, selang seling naik sepeda.
July 31, 2010 at 2:32 pm
iyyaa,,bikin cerita jg dunk je buat bumblebee,,
ntar dy iri lho,,,hahaha
July 30, 2010 at 9:11 pm
besar bgt yah jasa si marley,…
August 13, 2010 at 3:15 pm
iya tuh. hehehe.
trima kasih sudah berkunjung…
August 2, 2010 at 8:31 am
Sungguh luar biasa Marley itu…
Salam kenal buat dy ^^
August 13, 2010 at 3:16 pm
terima kasih. dia pasti tersipu karena telah dipuji.
nanti saya salamin…
August 6, 2010 at 9:13 pm
Kerrreeeennnn….
August 13, 2010 at 3:21 pm
alhamdulillah, ada juga yang bilang keren.
kekeke.
August 11, 2010 at 6:01 am
untung kau tak menikahi si marley mu itu jhe..abisnya katamu cantik sih..
hehehehe….
hebat jhe, hebat…
sepedamu kini kemana?
August 13, 2010 at 3:22 pm
hahahaha. iya. sebenarnya, puisi itu dua makna. kayak; ‘balikin’nya slank, dua makna.
sepeda sedang dipinjam kawan. menunggu dia rapelan dan beli sepeda.
August 26, 2010 at 1:39 pm
aah…akhirnya punya kawan serupa yang punya C70…
memang hemat kawan…meskipun kadang rewel…hehehehe
August 31, 2010 at 10:02 pm
hehehe. impian sejak kuliah dulu, om. dulu, kalau sama petot, yang diobrolin sering motor ini. kami benar2 tergila2 sama doi.
sekarang sudah ga rewel lagi. sudah ganti karbu. lancar jaya.
August 28, 2010 at 4:06 pm
woow, marley lebih klasik dari bayangan saya kak. salam buat marley. kasih marley asupan vitamin yang cukup, biar kuat nanjak
August 31, 2010 at 10:31 pm
kata kawan kantor, marley memang seklasik orang yang punya. kekeke.
iya, nanti disalamin…
kemarin2 pakai pertamax, lama2 mikir juga mahal. lagipula, marley pakai pertamax sama kayak orang tua disuruh minum pocari sweat. beda generasi…
August 30, 2010 at 1:03 pm
hasta la viesta siempre-nya kok gak dibahas?
August 31, 2010 at 10:40 pm
puisi ini dibikin sebelum stiker hasta la victoria siemprenya ditempel, pak. kapan2 diceritakan. terinspirasi sama bycicle diarynya ernesto. hehe.
June 12, 2011 at 2:04 am
wah mas…. sebagai sesama orang palembang… n penggemar c70… saya menganggumi anada dan marley nya…. lam kenal mas
June 30, 2011 at 12:52 pm
salam kenal kembali… tapi si marley lagi rusak sekarang. di mano ye, bengkel yang tokcer di palembang, buat motor2 tuo cak ini?
August 4, 2011 at 8:49 am
manteb Je…
jd pengen ngasih nama motor bututku jg, walopun blm setua si Marley tp cukup melegenda n tlh menemaniku sejak SMA,
mw bikinin puisi jg, tp g jago merangkai kata2, buatin donk Je,
hehe…
December 27, 2011 at 10:29 pm
jadi siapa nama motor bututnya, mas?
atau kayak si een yang kasih nama sepedanya mariana renata. ckckck.
hehehe. bikin puisi sambil lihat hujan gitu, mas. atau pas lagi galau. pasti jadi deh. hehe.
December 27, 2011 at 10:31 pm
Seumuran sama lensa saya
December 27, 2011 at 11:15 pm
wih, lensa kamera 30 tahun? dulu pernah jadi yang tercanggih pasti.
btw, couta ompunggaro ke?