“Poda si ne’e diwekiku, Amania.
Hanta ca da pu uma ma sampuru dua ri’i.
Na ini mbua si ri’ina kuhaju ka’a sara’a.
Na ciwi mbua rau si, mada ku londo rai….”
(Sodi Angi, Jhoni Keke)
Itu lagu yang romantis. Tentang dua insan yang saling menanyakan rasa sayang mereka. Tidak sekedar kata-kata cinta, tapi tanggung jawab. Ya, tanggung jawab seorang laki-laki untuk meminang wanita pujaannya.
Judulnya Sodi Angi. Lagu yang bila didengarkan jauh di sini; seketika membawa pikiran menuju kenangan tentang kampung halaman. Bukan karena ada kisah cinta atau semacamnya. Tapi dulu sekali, lagu ini sering diputar di radio, di toko-toko di Pasar Atas, di angkot-angkot, juga selalu dinyanyikan di acara-acara pernikahan. Mendengarnya kembali seperti membuka slide-slide kenangan di sana; sebuah kabupaten kecil yang dikenal dengan Gunung Tambora, kuda-kuda, dan padang sabana.
Tapi, seorang kawan tidak menganggap lagu ini romantis. Dia bilang, Sodi Angi itu lagu tentang perempuan yang matre. Perempuan yang hanya mau menikah bila sudah disediakan sebuah rumah panggung bertiang dua belas. Masa-masa itu, jarang yang memiliki rumah panggung bertiangkan dua belas (sampuru dua ri’i). Dan lagi, rumah itupun mesti direnovasi, dibuatkan selasar sebagai tempat musyawarah keluarga untuk persiapan pernikahan. Sungguh syarat yang berat.
Itu pendapat dia. Mungkin berbeda bila sudut pandangnya berbeda. Perempuan dalam lagu Sodi Angi mensyaratkan rumah panggung bertiangkan dua belas. Ini tentu tidak ringan. Tapi, yang disyaratkan adalah sebuah rumah; tempat tinggal bersama, tempat bernaung untuk keluarga yang kelak dibina. Bukan semata untuk perempuan itu sendiri.
Saya jadi sok tahu begini.
Perempuan itu tidak mensyaratkan gaun-gaun yang cantik atau perhiasan untuk dia sendiri. Meski, si laki-laki pun menjanjikan perhiasan yang indah untuknya, di syair sebelumnya. Karena bagi sebuah keluarga, rumah itu wajib ada. Entah milik pribadi, ataupun menyewa. Jadi, tak apa ‘kan menyewa rumah, tapi rumah panggung bertiang dua belas? Atau tiangnya lebih sedikit, bertiang sembilan atau bertiang enam, tapi milik sendiri? Atau biarpun menyewa dan bertiang sembilan atau enam, namanya tetap rumah, kan? Namun, dari ketiga-tiga pilihan solutif ini, si perempuan mau tidak, ya?
Sepekan yang lalu, ada empat teman saya yang menikah. Semuanya satu angkatan di kampus, juga seangkatan di pusdiklat Kalibata. Keempat-empatnya menikah di hari yang sama, dua pernikahan di hari yang sama. Saya sangat senang mendengar kabar ini. Sebelumnya, beberapa bulan yang lalu, sempat tidak menyangka juga. Padahal kata orang, cinta itu sama seperti batuk, tidak bisa disembunyikan. Mereka begitu pandai menahan batuk, hingga kami seangkatan tidak banyak yang tahu, sampai undangan itu resmi dipublish ke khalayak ramai. Selamat untuk Ainal-Ratna dan Aji-Wulan, semoga menjadi keluarga yang tentram, bahagia, dan penuh rasa kasih sayang.
Kata orang, pernikahan itu indah. Ada teman hidup yang sama-sama berbahagia, saling memberi kebahagiaan, dan berusaha membuat pasangannya bahagia. Ada teman hidup sebagai tempat berkeluh kesah bila punya masalah. Ada teman hidup yang berjuang bersama menggapai cita-cita. Semuanya yang membuat banyak orang menyesal telah menikah, menyesal tidak menikah dari dulu.
Katanya juga, pernikahan itu bukanlah hal yang sederhana, bukanlah hal yang mudah. Hidup tidak selalu menghadapi hal-hal yang manis, tapi selalu ada kenyataan yang pahit. Berpuluh-puluh tahun hidup bersama orang yang sama. Apakah keduanya selalu bisa mengerti perasaan pasangannya? Apakah keduanya tidak bosan? Apakah keduanya selalu setia, karena fisik, kecantikan, ketampanan, itu tidaklah abadi?
Saya jadi membicarakan hal yang tidak saya tahu secara pasti. Karena belum menikah, jadi tidak tahu rasanya seperti apa. Tapi, boleh ‘kan bila sudah memikirkannya? Karena Sang Nabi memerintahkan bagi pemuda-pemuda yang mampu untuk segera menyegerakan. Tapi tidak sederhana ternyata. Mesti banyak belajar. Belajar dari siapapun.
Ehm, bagaimana dengan teman-teman; apa pendapat teman-teman tentang pernikahan? Syarat-syarat calon istri atau suami idaman itu seperti apa, ya? *ini dalam rangka belajar
*
Demang Lebar Daun Palembang, 29 Juli 2009
Kalau ada yang akan menikah, jangan lupa kirim-kirim undangan, ya…
(nb: buat yang pingin denger lagu Sodi Angi, donlod saja di sini)










