Hamparan sawah selayak permadani, bertingkat-tingkat, bergradasi hijau muda-tua. Tebing karang berdiri kokoh menantang ombak dari Samudera Indonesia. Bukit-bukit hijau, ada pula yang menjadi tambang kapur, yang terbelah sebelah sisinya. Bangunan-bangunan indah tempat pesiar berbagai macam rupa. Dari ketinggian ribuan kaki; pulau yang terkenal di berbagai belahan dunia ini; telah menyampaikan sedikit kesan keindahannya.
Ada tiga jam waktunya untuk transit di NRIA Bali. Saya menimbang, mungkin bisalah saya berjalan-jalan sebentar saja. Aha, bukanlah ide yang buruk. Beberapa kali saya melewati Pulau Bali; tapi hanya sekedar menjejakkan kaki di pelabuhan, bandara, atau di tempat makan untuk para penumpang bus malam. Tidak pernah saya duduk di tepi pantai berpasir putihnya—yang jelas bukan pantai pelabuhan—untuk sekedar memandang horizon langitnya.
Kepada bapak tukang ojek yang menawarkan jasanya, saya minta diantarkan ke pantai yang paling dekat saja. “Iya, pantai Kuta. Cuma sepuluh menit saja dari sini…”, katanya dengan logat khas Bali; dengan pengucapan huruf “T” yang unik. “Ok, kita berangkat ke sana!”, kata saya, setelah tawar menawar harga. Sebelum meninggalkan bandara, saya sempat melambaikan tangan kepada Sandra Dewi. Tapi, karena Sandra Dewi yang saya temui hanya berupa gambar pada iklan SimPati, dia hanya tersenyum terus dan diam saja, tidak membalas lambaian tangan saya. Tidak mengapa, setidaknya senyumnya sangat manis hari itu.
Di atas motor, saya mengajak ngobrol bapak yang namanya Suwita itu. Tentang Bali, juga tentang daerah saya yang dia tanya-tanya. Tentang keluarga dia, atau juga tentang saya yang dia tanya-tanya. Tapi tidak sedikit pun saya menyinggung masalah Bom Bali, Amrozi, Imam Samudera, atau hal-hal yang menuju ke arah ingatan itu. Padahal, topik akan eksekusinya para pelaku Bom Bali itu adalah topik yang sedang marak-maraknya menjadi bahan pembicaraan: pada obrolan warung kopi, di koran, di televisi, hingga dunia maya. Saya rasa, ada banyak hal menarik lainnya yang bisa dibicarakan; tanpa menimbulkan kekecewaan, kesedihan, bahkan mungkin—kebencian.
Saya minta untuk diantarkan ke bagian pantai yang tidak banyak orangnya; kebetulanpun hari itu bukanlah hari libur. Pantai terlihat lengang.
“Tunggu sebentar ya, Pak, saya hanya sebentar saja di sini”. Saya segera ke arah laut, menuju pinggiran ombak untuk menyentuh airnya. Inilah Kuta Bali; pantai terkenal yang turut mengenalkan nama Indonesia di luar negeri sana. Di salah satu titik pada garis pantai itu; pernah terjadi tragedi dahsyat yang membawa pengaruh buruk kepada perekonomian Bali, hingga kepada kepercayaan dunia kepada Indonesia. Banyak yang terhenyak, tidak percaya; namun tragedi tersebut benarlah adanya.
Banyak teori-teori tentang tragedi tersebut diutarakan. Tentang terlibatnya pihak asing. Tentang bom mikronuklir. Tentang keahlian para pembom yang diperoleh dari Taliban. Juga–yang lebih utama– tentang pro kontra tindakan para pelaku pemboman. Apakah ini benar Jihad atau bukan? Apakah ini benar sesuai dengan ajaran agama atau tidak? Sesuaikah dengan hukum syariat? Apakah mereka syuhada atau tidak? Masuk surgakah mereka? Bagaimanakah hubungan antar umat beragama seharusnya, yang telah diajarkan al Quran? Bagaimanakah dengan nasib anak-anak dari korban yang ditinggal mati? Bolehkan menghalalkan cara demi sebuah tujuan?
Saya membasuh wajah dan tangan dengan air laut. Angin yang berhembus memaksa air di wajah untuk menguap pergi. Sebelum perginya; diambilnya sejumlah energi panas dari kulit wajah untuk menguapkan dirinya sendiri; menjadikan wajah saya sejuk walaupun di bawah sengatan terik matahari.
Segera saya beranjak ke tempat Pak Suwita menunggu. Sempat saya mengabadikan foto sambil berjalan ke tempatnya. Pantai ini memang bagus, tapi saya harus beranjak pergi. Tidak apalah saya hanya mampir sebentar; agar saya benar tahu bahwa inilah pantai yang putih pasirnya, tinggi gelombangnya, dan terik mataharinya mengundang banyak orang datang ke sini.
Palmerah, 11 November 2008
“Saya sangat percaya akan kasih sayang dan damai Agama ini…” [di saat orang-orang ramai membicarakan eksekusi...]








November 11, 2008 at 9:08 am
Wah, anda memilih waktu yang tepat untuk berada di Bali…
Kita bisa melihat reaksi masyarakat Bali secara langsung terhadap eksekusi pelaku pemboman..
Btw..
Tupainya lucu
November 11, 2008 at 9:34 am
Kuta, duuh… jadi inget sunset yang indah…
November 11, 2008 at 9:36 am
halo, shavaat.
betul, banyak yang bisa dibicarakan ketimbang mengganggu luka lama yang hampir sembuh.
jadi tidak terlambat kembali ke bandara, kan?
November 11, 2008 at 3:01 pm
Wah….,subhanallah…
Pemilihan topik diskusi yang menarik. Betul kata ente, banyak topik yg bisa diobrolkan tanpa menyinggun rekan diskusi.
Bali sungguh indah. Dan sungguh, Indonesia punya banyak tempat seperti itu.
Memang, tak ada nikmat Allah yg bisa kita dustakan.
November 12, 2008 at 9:17 am
bali, paradise island
November 12, 2008 at 2:35 pm
fotonya keren 2 yah…
thn baru insya allah saya ke bali..
November 13, 2008 at 2:08 am
Pasole ja lengaku ake:)
November 13, 2008 at 3:40 am
tunggu…
“membasuh muka dengan air laut”?
Asiiiiinnnnn
wuih..tahan kamu, vaat?
Dulu pernah iseng2 ‘cicip’ air laut…saking asinnya..saya kapok he..he..
November 13, 2008 at 4:02 am
hmm..jalan2 kebali gak perlu kebali..mampir di sini aja..
tp kok foto2 nya cm sedikit..
sedikit narsis gak papa mas, biar eksis..hehe..
November 13, 2008 at 4:29 am
@a3u5z1i : Iya, tp sekedar lewat doang sebenarnya. Sampai sana baru sadar kalo sedang hangat2nya Bom Bali jadi perhatian. Tapi, suasananya biasa saja di sana. Damai…
Tupainya aneh, baru ketemu tupai yang lumayan jinak begitu, biasanya mana bisa tupai difoto pakai camdig biasa saking gesitnya…
@mang kumlod: tapi sayang, mang. Kemarin ke sana matahari sedang teriknya2, panas banged. Ga sempat liat sunset…
@marshmallow: iya, mbak… Ga telat kok sampai bandaranya. Lagipula; didelay juga berangkatnya…
@agung: iya, Gung. Indah. Bersyukur kita hidup di negeri yang indah ini. Asal jangan sampai lupa bersyukur…
@namada: bali itu indah sangad…
@yakhanu: selamat berlibur, Mas. Titip salam lagi ke sana…
@putri: biar lebih terasa, mbak. Kalau ke mana2, sempatkanlah menyentuh dan mencicip airnya, menghidu bau udaranya, dan mencium tanahnya…
@hedi: masa?
@denok: sebentar saja sih di sana, ga sempat hunting-hunting foto. Lagipula, kameranya camdig biasanya, ga semangat ambil2 gambarnya. Oya, selamat berkunjung ke sini ya, Mbak
November 13, 2008 at 5:48 am
Ha3:) mpa’a lone lengaku ma maci to.i moci
November 13, 2008 at 6:53 am
pas!!r kuta san9ad lembuutt…:)
kutana lucu..;)
sem09a bali men99eliat kembaL!..:)
November 13, 2008 at 1:16 pm
Kuta, diganggu bagaimanapun..teteup saja indah… kangen Bali…tupainya begitu menggoda… hehe
November 14, 2008 at 3:29 am
Vaat…
Daku memberikan sebuah award buatmu..
Tolong diterima, ya..
November 14, 2008 at 5:49 am
Terbayang kembali ingatanku pada Bali, sungguh sangat indah kak…
November 17, 2008 at 12:27 pm
tupainya lucuuuuuuu…
November 20, 2008 at 5:01 am
hmmm dah lama gak ke Bali…. masih rame ya?
November 21, 2008 at 4:51 am
wew bang nuris ke bali euy…
Ris, add gw dong di list temen lo..
Aldry
November 23, 2008 at 1:40 am
Wahh… Bali emang keren…
Walaupun lebih terkenal buat turis Bali lebih terkenal ketimbang Indonesia, tp Bali teuteup bagian dari Indonesia… ^^
November 25, 2008 at 10:16 pm
jadi segera pengen ke Aceh…
ke pantai Sabang bersama istriku tercinta…
November 29, 2008 at 5:33 pm
(sekalinya ke bali) orang2 bali yang saya temui (siang hari) disana memang ramah-ramah^^ fufufu
betul banget kata shavaat, masih banyak topik lainnya yang tidak menimbulkan kekecewaan dan kesedihan, bahkan kebencian ^^ he he he
nice post !
December 12, 2008 at 7:22 am
mampir dulu ah
si tupai siapa yng foto??
salam kenal dari neta di
http://www.netanielgiovanni.blogspot.com
December 18, 2008 at 2:24 am
yuu.. ikutan IBSN Blog Award di cantigi.. ^_^
December 30, 2008 at 5:59 am
Ga mampir Gunung Agung Je’?
January 11, 2009 at 9:55 pm
pengen ke bali lagi…
kangen ma pantainya…
January 21, 2009 at 5:14 am
bali…duh kapan bisa kesana…ya
January 27, 2009 at 8:03 am
@heidy: ga apa2, teman
@wiend: pasirnya memang bagus. Tapi, kalo bagi orang timur kayak kami, sudah biasa sih pasir putih seperti itu. Di mana2 pantai di sana, banyak yang berpasir putih. He2
@kucing keren: kangen Bali; belilah produk joger. Loh??
@selvyapoetri: sudah diterima…
@redesya: indah memang…
@nana: kalo disate, keknya enak itu tupai… He2. Yaiik!
@fisha: masih…masih ramai…
@the tambunan: sudah di add tuh…
@reina: iya, ga akan dijual ke Mik Jagger itu pulau,,,
@mas wipy: loh? cie..cie..
@mrs. children: begitulah…
@neta: di foto begitu saja pakai kamdig. salam kenal…
@cantigi: bolehlah..
@darisjati: ga sempat, Pak. Itu saja buru-buru bukan main,,,
@elly: kangen pantainya; belilah produk Joger. Loh?
@omiyan: dekat kok, seminggu waktunya, cukuplah…
February 21, 2009 at 2:17 am
halo mas…wanna know you more
gi nyari temen naik gunung nih
February 21, 2009 at 2:18 am
kapan mo kmana?
ikutan donk….
oia….aku 675/spa/2002 angkatannya titi 681/spa/2002
March 9, 2009 at 7:40 am
@arale: wah, trima kasih berkunjung ke sini. Saya 810/SPA/2007, waduh beda 200-an, he2. Kalau angkatan 2002, ada Mona 698 yang sering main ke posko. Sedang bertugas di mana?