Mungkin benar kata orang-orang; di gunung kita bisa melihat sifat asli diri kita. Saya kira ungkapan ini benar. Di gunung kita bisa melihat; manusia memang bersifat asli sebagai perusak.
Senja di Suryakencana
Ketakjuban mengalahkan lelah kaki ini
Ketika mataku menyapu hamparan luas di depanku
Hamparan lembah yang dihiasi ribuan pohon eidelweis:
Alun-alun Surya Kencana
Hmm, setapak demi setapak kujejakkan kaki
Eidelweis-eidelweis itu seperti membicarakan kedatanganku
Seperti para gadis mengerling manja yang membicarakan pangeran pujaannya
Ah bukan, kalianlah para putrid dan aku pemuda yang tak henti-henti berdecak kagum
Antara ketakjuban dan ungkapan syukur yang meresap di hati
dan tak sepenuhnya aku mengerti
Air bening mengalir di tengah lembah
Gemericik air dari dinding tanah adalah alunan nada-nada harmoni
yang partiturnya masih menjadi rahasia besar manusia
Desir angin tenang menyapu dedaunan
Seperti tenang kepakan sayap malaikat penyemai eidelweis putih
dan buah arbei merah segar yang menjuntai gemulai
Kita tak segera ke puncak bukan?
Aku belum pernah melihat yang seperti ini
Aku ingin lebih lama menikmati keindahan ini
Kita tak segera ke puncak bukan?
Jangan kau ceritakan dulu apa yang akan kutemukan di atas sana
Pastilah ada lagi ribuan ketakjuban di sana
M N Juna Putra
Alun-Alun Suryakencana, Juni 2007
Alun-Alun Surya Kencana basah oleh hujan, air mengalir di tengah-tengah lembah, Eidelweiss-Eidelweiss seakan menyambut kedatangan para pendaki, arbei-arbei sedang ramai berbuah dengan buatnya yang asem-segar, gemericik air di pancuran di tengah lembah, dan cahaya sore terbiaskan oleh awan-awan. Saya rasa, orang yang hatinya paling kasar, liar, bebal, dan tidak sensitif sama sekalipun akan termenung kagum saat itu.
Begitulah suasana saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Alun-Alun Suryakencana, Gunung Gede, kurang lebih satu tahun yang lalu. Perjalanan bersama Reman-796, Andika-799, Akbar-819, dan Rian-820 saat itu adalah pengalaman naik gunung yang cukup berkesan buat saya. Jumat lalu, untuk ketiga kalinya saya mendaki Gede. Sabtu sore, saya kembali melihat Alun-Alun Surya Kencana. Syukurlah hari tidak hujan. Langit cerah dan matahari bersinar hangat.
Untuk pendakian kali ini, Mas Iyok-736, Reza-836, dan saya, bertugas menjadi pendamping (guide) bagi peserta Pendakian Umum STAPALA. Pesertanya ada 60-an orang. Kelompok kami pesertanya tujuh orang: Mas Taufik, Mbak Dian, Kanda Ardi (Kanda, karena orang Makassar), Guntur (anak Mafos—komunitas fotografi di STAN), Ana (kawan di KSR Over), Diaz, dan Mas (Kanda?) Yoyon-591 (orang Jogja, tapi lima tahun penempatan di Makassar). Walaupun banyak peserta yang kesulitan menghadapi trek pendakian, namun perjalanan dapat dibilang begitu menyenangkan karena pemandangan yang indah, serta semangat para peserta yang pantang berpatah arang.
Apalagi bila saatnya istirahat dan memasang tenda. Acara masak-masak adalah yang paling ditunggu-tunggu; ramai, penuh joke, dan dengan cerita-cerita menarik yang bisa menghangatkan suasana. Kopi, teh, susu coklat hangat begitu lezat di tengah udara yang begitu dingin. Karena saya tidak begitu suka makanan kaleng, saya begitu senang ketika mengetahui Kanda Ardi membawa satu stoples teri tempe yang disambal goreng.
Acara masak dan makan menjadi ramai ketika Reza-836 a.k.a Carok mengajak bermain Truth or Dare. Dan dia sukses menjadikan saya sebagai korban yang patut dicencengin sepanjang malam. Tapi, syukurlah, ada juga Mas Iyok yang turut menjadi korban, bahkan saya rasa lebih parah karena diberi pertanyaan—yang menurutnya—begitu memalukan.
Mungkin beginilah menariknya naik gunung. Hubungan pertemanan, kalaulah berlebihan bila disebut persaudaraan, akan terjalin semakin erat. Kita bisa tahu lebih tentang kawan kita; apa kesukaannya, bagaimana pengalaman-pengalamannya, hingga siapa gadis tidak beruntung yang dia taksir hingga bertahun-tahun. Belum lagi bila tolong-menolong; membuat minuman hangat untuk kawan yang baru bangun tidur, sekedar meringankan beban ransel, berbagi air minum, atau membantu kawan lain ketika melewati sebuah pijakan yang licin. Kesemua ini menciptakan tali hubungan yang mungkin bisa dijadikan kenangan bertahun-tahun kemudian.
Gunung Gede tetap indah. Pemandangannya tetap menabjubkan. Namun, sangat disayangkan, banyaknya sampah anorganik membuat lukisan alam ini seperti terkena percikan tinta noda. Di Alun-Alun Suryakencana, sampah yang bertumpuk-tumpuk tersebar pada camping ground. Di Puncak Gede, saya seperti melihat Tempat Pembuangan Sampah di mulut gang kost saya. Di sepanjang jalur pendakian; sampahnya tidak usah ditanya. Hampir bisa dikata, tidak ada semeterpun jalur yang bebas dari sampah plastik dan semacamnya.
Untuk apa naik gunung kalau tidak pandai menjaganya? Bila dosa merusak trek, membuat jalur-jalur di hutan, dan membuat para hewan menyingkir, sebegitu membuat kita merasa bersalah; begitu susahkah untuk tidak menambah dosa kepada alam dengan membawa turun kembali sampah yang kita bawa?
”Ah, Rik, percuma saja sepertinya kerjaan kita ini”, ucap saya sambil berselojor kaki. Beristirahat sejenak.
”Ga’ masalah, Je. Biarpun sedikit, yang penting ada”. Erik, dengan tidak mengenal mengeluh, terus memungut sampah sepanjang jalur turun. Sudah setengah trashbag sampah yang dia kumpulkan sedari puncak. Sampah yang saya pungut hanya setengah dari plastik sedang saja. Tidak sampai seperlima dari yang dia bawa.
Seperti menggarami air laut, perumpamaan itu mungkin cocok ditujukan pada pekerjaan memungut sampah sepanjang jalur pendakian. Hampir tidak ada pengaruhnya. Sampah yang berhasil dipungut tidak sebanding dengan sampah yang masih tercecer. Apalagi letaknya tersebar. Punggung jadi pegal-pegal karena sebentar-sebentar harus berjongkok untuk memungut sampah.
Kadang teringat kata-kata Bang Jauhari, senior saya di kampus, ”Seandainya Gede ditutup sepuluh tahun saja, betapa indahnya gunung itu”. Memang, pendaki adalah salah satu faktor yang membuat hutan rusak dan habitat hewan terganggu. Padang edelweiss di Alun-Alun Suryakencana pernah terbakar hebat dan melenyapkan banyak vegetasi, dikarenakan oleh ulah pendaki yang membuat api unggun. Owa Jawa, sudah jarang terlihat lagi di habitatnya di TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango). Hal ini dicurigai karena akitivitas pendaki yang semakin ramai. Beberapa pendaki malah sangat bangga karena berhasil membawa pulang bunga edelweiss (Anaphalis Javanica) ; yang saya tidak melihat letak kebanggaannya ada di mana.
Tidak semua pendaki memang. Saya menyaksikan Erik yang mau repot memungut sampah untuk dibawa turun. Juga Reman—kawan, angkatan di atas saya—yang begitu ketat tentang masalah lingkungan. Mendaki bersama dia harus siap-siap untuk memungut sampah dan teliti terhadap jumlah bungkus plastik, kaleng, tali, dan semacamnya yang harus dibawa turun kembali. Juga kawan-kawan lain yang tidak berkeberatan untuk melakukan Operasi Semut, memungut sampah sepanjang jalur pendakian.
Kalau melihat sampah di gunung-gunung, saya jadi menyadari sifat-sifat manusia. Mungkin benar kata orang-orang; di gunung kita bisa melihat sifat asli diri kita. Saya kira ungkapan ini benar. Di gunung kita bisa melihat; manusia memang bersifat asli sebagai perusak.
Kamis, Agustus 2008, Kalimongso
“aku tak tega memetikmu, cukuplah gambar2 yang bisa ku abadikan, tuk ku bawa pulang”

Sepatu All Star bulukan di Puncak Gede. Karena percaya isu bahwa All Star makin keren kalau semakin bulukan, saya pakai terus sepatu ini. Naik gunung (sudah 4 puncak gunung), juga buat kuliah. Rencananya, kalau lulus kuliah, sepatu warisan Jabay ini mau saya bawa ke tempat penempatan. Fisiknya sangat memiriskan hati siapapun yang melihatnya.






