Tentang Janji

Seperti menghidup udara pegunungan. Layaknya sekor burung yang terlepas dari sangkar. Sebuah kewajiban yang mengejar-ngejar telah saya laksanakan. Sebuah janji yang selalu mendengung-dengung tiap pagi dan petang telah saya tunaikan. Rasanya benar-benar bebas sekarang.

Sebenarnya kewajiban dan janji ini tidak sebegitunya. Biasa saja. Berawal dari keisengan saya mencari-cari objek untuk diabadikan gambarnya.

Sore hari, setengah hari menjelang ujian terakhir, kepala ini rasanya mau pecah saja. Padahal, untuk ujian terakhir seperti ini, harusnya saya merasa lega, tenang, duduk-duduk minum teh di kampus, atau memanjat wall di Plasa Mahasiswa. Tapi itulah, Kawan. Kau tahu, bukan? Kampus saya agak konservatif dan ekstrim dalam hal kelulusan mahasiswa. Tidak ada yang bisa menjamin, seseorang untuk terus mendapatkan indeks prestasi layak untuk lulus. Seringkali, mahasiswa yang punya indeks prestasi 3 ke atas—dalam skala empat—masuk ke dalam daftar drop out (DO) pada semester berikutnya.

Sebenarnya saya tidak ambil pusing tentang DO, saya yakin saya tidak akan DO. Kalau tidak yakin, jawaban apa yang bisa saya berikan buat orang tua saya? Tapi, tetap saja rasa tekanan itu tetap ada. Inilah jeleknya sistem DO yang terlalu ketat, seandainya bukan karena alasan mahasiswa menggunakan APBN (baca: uang rakyat) dan tidak sepantasnya berleha-leha, saya sangat tidak setuju sistem ini. Tekanan seperti ini bisa membunuh daya kreatifitas. Tidak ada jaminan kualitas bisa terjaga dengan sistem seperti ini.

Sore itu, saya berjalan-jalan ke luar kos, untuk meredakan pusing di kepala, tidak lupa kamera saya bawa. Setidaknya udara bebas mungkin bisa membantu. Jalan ke depan gang kosan yang tembus ke tempat pembuangan sampah (TPS). Di TPS itu ada anak-anak yang sedang main bola. Satu-dua hari yang lalu saya melihat beberapa anak yang sibuk membuat gawang dari bambu dan membersihkan sedikit lahan dari TPS itu. Sekarang, gawang bambu itu telah lengkap dengan jaring terbuat dari tali rafia. Seorang anak malah lengkap berkaus kaki dan bersepatu. Agaknya, persiapannya cukup serius untuk pelaksanaan main bola sore itu.

Aha, ini sepertinya bagus untuk difoto. Apalagi, ternyata anak yang memakai kaus kaki dan bersepatu itu adalah seorang anak perempuan. Namanya Bella, tapi kawan-kawannya dan tetangga sekitar itu banyak yang memanggilnya dengan nama Benny. Dipanggil dengan nama laki-laki seperti itu, Bella terlihat cuek-cuek saja dan tidak ambil pusing.

Sadar kamera mengarah pada mereka, anak-anak sadar dan peduli kamera ini semakin semangat mainnya. Seorang anak sebelum menendang bola tiba-tiba berhenti dan mematung, dan memberi isyarat ke saya untuk diambil gambarnya. Dengan hidung kembang kempis, dia sangat senang melihat hasilnya di LCD kamera. ”Kayak pemain bola ya, Om”.

Setelah mengambil gambar beberapa kali, anak-anak itu sempat foto bareng malah, saya beranjak kembali ke kos. Seorang anak ingin meyakinkan hatinya, ”Om, nanti fotonya dicetak, kan?”. Melihat raut wajah penuh harapnya saya tidak kuasa untuk tidak mengangguk. Anak-anak itu sangat senang fotonya akan dicetak, berlari-lari dan memberitahukan teman-temannya, layaknya seorang prajurit di tahun empat lima, mengumumkan kepada orang-orang bahwa Jepang sudah kalah dan Indonesia telah merdeka.

Mulailah saya diteror oleh janji itu. Masalahnya, kamera saya dipinjam dan data-datanya belum sempat saya pindahkan. Maka data foto-foto itu masih di tangan kawan saya berminggu-minggu lamanya.

Hampir tiap hari, selama berminggu-minggu, pertanyaan yang sama selalu ditanyakan kepada saya, ”Om, sudah dicetak belum fotonya?”.

”Om, sudah dicetak belum fotonya?”.

”Om, sudah dicetak belum fotonya?”.

Saya sudah jelaskan bahwa kamera saya dipinjam, tapi ini malah melahirkan pertanyaan baru yang berulang-ulang, ”Om, kameranya sudah dibalikin belum?”.

”Om, kameranya sudah dibalikin belum?”

”Om, kameranya sudah dibalikin belum?”

Akhirnya jawaban yang sama dan monoton jadi sering saya berikan, ”Belum, De’”. Berulang-ulang, hingga sebelum mereka bertanya, saya sudah menyiapkan jawaban, ”Belum, De’”.

”Belum, De’”.

”Belum, De’”.

Ingin rasanya menghindar tapi kalau mau ke kos, berangkat dan pulang kuliah, gang itu adalah jalan satu-satunya. Sedang rumah anak-anak itu tepat di samping gang. Akhirnya tiap berangkat dan pulang kuliah, saya selalu bertemu dengan mereka yang sering melontarkan pertanyaan sambil makan di teras rumahnya, atau sambil menonton tivi, dan sering juga berlari-lari menghampiri sambil menanyakan pertanyaan yang monoton itu. Pertanyaan-pertanyaan itu mendengung-dengung di telinga. Rasanya, hari-hari itu tidak beranjak, waktu berhenti, dan kemarin sama rasanya dengan hari ini.

Akhirnya saya, kemarin siang, berhasil mencetak foto mereka. Senang rasanya membayangkan kegembiraan di wajah-wajah merepotkan itu. Saya cetak masing-masing untuk seorang, karena masalah seperti ini biasa sangat sensitif. Saya membayangkan mereka pasti puas, dan saya tidak akan terbeban oleh janji-janji lagi. Saya akan bebas. Tidak ada lagi pertanyaan tentang foto lagi, pasti.

Saya bagikan ke anak-anak itu foto-fotonya. Benar saja, mereka senang mendapati foto mereka telah dicetak. Ada yang tersenyum terus hingga saya curiga keningnya sedikit panas suhunya. Ada yang memandangi fotonya diam-diam saja memandang foto dengan pandangan dalam dan lurus, takjub sepertinya. Ada yang membanggakan fotonya di penjaga konter pulsa dekat situ. Tapi si Benny malah agak kurang kegembiraannya. ”Ada apa?”, tanya saya—sedang baik hati.

”Om, foto Bella yang sendirian mau dicetak juga, kan?”

Dari Merbabu-Merapi (4-6 April)

Puncak Kenteng Songo, Merbabu

Gunung Merbabu dan Merapi memang indah. Walaupun seringkali kabut datang menyelimuti kami dan menghalangi pandangan, keindahannya tidaklah berkurang, bahkan memberi sedikit tantangan. Pemandangan selama pendakian bagaikan slide-slide berisi lukisan-lukisan indah dengan kabut-hujan sebagai jedanya. Jurang-jurang dalam, air terjun, awan-awan putih berkilau, lembah-lembah sejuk-hijau, tebing-tebing curam, citra kota terlihat dari langit, pucuk-pucuk cemara, hamparan sabana, hingga batu-batu kusam muntahan kawah, silih berganti dengan kabut dan hujan deras sebagai selingannya. Benar kata Refly, pendakian kali ini bukan puncaknya yang menjadi tujuan akhir, tapi perjalanannya. Ya, keindahan alam, juga tentang canda tawa, selama perjalanan ini.

Hujan di Merapi

Pundak saya sedikit perih karena sudah lama tidak naik gunung dan memanggul carrier. Sepatu yang saya pakai robek sana-sini. Badan ini rasanya pegal-pegal; di paha, betis, pinggang, bahu, dan telapak kaki. Tapi tentu saja semuanya tidak sebanding dengan keindahan sepanjang perjalanan. Seperti mata air pegunungan yang menghilangkan haus, begitu rasanya. Belum lagi dengan melihat semangat kawan-kawan yang lain; selayak embun pagi yang menyejukkan hati.

Contohnya, Dian Bonasari Simamora atau biasa dipanggil Bob Bon. Cewek Batak ini sebelum mendaki Merbabu-Merapi tidak pernah sekalipun mendaki gunung. Maklum saja, pada kesempatan pertama, kawan yang satu ini—yang mengaku dulunya selalu sakit perut kalau makan nasi uduk—waktu pendakian Ciremai dua bulan lalu tidak bisa ikut karena ibunya datang berkunjung, langsung dari Medan. Lagi pula, dia lebih tertarik mengayuh perahu karet, dibandingkan bawa carrier berat ke atas gunung. Tapi, sekali-sekalinya naik gunung, langsung mendaki dua gunung dalam tiga hari, pun sampai ke puncaknya yang masing-masing setinggi 3142 mdpl dan 2911 mdpl. Dengan ukuran carrier 65 liter yang tidak sebanding dengan posturya yang mini, saya semakin percaya bahwa semangat adalah faktor yang sangat penting untuk mewujudkan keinginan, harapan dan cita-cita.

Saya pikir, naik gunung mengajarkan kita untuk menggapai mimpi dan harapan. Bahwa, untuk mendaki dan mencapai puncaknya dibutuhkan kesiapan metal, kesehatan fisik, logistik, dan semangat. Kesemuanya mutlak dibutuhkan; tidak hanya fisik dan logsitik saja, namun butuh pula mental dan semangat. Kita tidak ingin seperti zombie, yang loyo, berjalan linglung, dan kehilangan ekspektasi masa depan, walaupun punya kesempatan.

Juga tidak hanya mental dan semangat, namun butuh fisik dan logistik juga. Keadaan gunung tiada bisa ditebak dan dipastikan—panas, dingin, hujan, dan badai bisa datang silih berganti—dibutuhkan fisik dan logistik yang layak; seumpama kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian dan dibutuhkan kesanggupan diri. Kita tidak ingin menjadi orang beromong besar, semangat tinggi, namun tiada modal dan aksi.

Seringkali ketika mendaki, saya sadar bahwa untuk menuju puncak, jalan menanjak dan berat mau tidak mau harus dihadapi. Kalau jalannya enak, tidak membuat capai, datar atau bahkan menurun, bahwa sadarlah bahwa kita tidak sedikitpun mendekati ketinggian puncak. Hanya ada dua kemungkinan bila jalannya santai, nyaman, dan tidak membuat napas terengah-engah: keadaan stagnan atau menurun.

Peuncak Garuda, Merapi. Kuat benar ini batu...

Keterangan Foto:

1. Puncak Kenteng Songo, Merbabu. Disebut Kenteng Songo karena di puncak itu terdapat batu berbentuk lesung (kenteng) berjumlah 5 buah. Lho, bukannya harusnya sembilan (songo)? Konon, hanya orang-orang “terpilih” yang bisa melihat kesembilan batu itu. Dari ki-ka: Refly, Dian, Reman, Semut, Ikbal, Bon Bon, Uka, dan saya.

2. Hujan di lereng Merapi

3. Puncak Garuda, Merapi. Ini adalah puncak tertinggi yang bisa diraih manusia di Merapi. Sebenarnya ada puncak lebih tinggi di seberang kawah. Hanya saja, tidak ada jalan untuk meraihnya.