Entah, saya jadi sering bertanya-tanya. Dosa apa yang saya bikin, sampai-sampai saya jadi pelupa begini. Sudah lupa, ditambah ceroboh pula.
Entah berapa kali saya kelewatan buat turun dari bus gara-gara tertidur. Sebentar…seingat saya, kalau tidak lupa, sudah tiga kali. Kali pertama waktu ke Kwitang, Senen (lagi-lagi di Senen). Dari Blok M saya tidur saja, perjalanan lama begini. Tiba-tiba saya bangun begitu saja, mungkin karena aturan jam biologis, dan mendapatkan saya sendirian di atas bus. Bus kosong melompong dan sudah terparkir di terminal Senen, sedang menunggu penumpang. Saya tanyakan ke sopirnya sudah lama apa baru sebentar saja bus ini sampai terminal. Sopirnya bilang: “Lah, mie gua saja udah masak begini (dia sedang makan mie rebus). Gua pikir lu mau balik lagi ke Blok M”.
Saya cuma bisa cengengesan.
Kali kedua waktu mau ke Pusda Jaksel di sekitar Mayestik. Sama juga, ketiduran. Saya bangun gara-gara dengar suara gruduk-gruduk orang turun dari bus di Terminal Blok M.
Kali ketiga tadi siang pas naik 71, sehabis melihat Aksi Sejuta Umat dan GreenFest di Senayan. Abang kondekturnya bangunin tepat di titik bus memutar di Kodam. “Mas turun di mana?”. Sambil kebingungan, sehabis terlelap, saya bilang, “D 05” (nama angkot ke arah kampus). “Sudah lewat, Mas. Kita mau balik lagi sekarang”. Arghh,,lagi-lagi.
Kemarin pas ujian, saya lupa kalau hari Rabu ujiannya jam 11 pagi (pagi atau siang, tak tahulah..). Syukur alhamdulillah, Tien (kawan yang selalu sabar mengirim SMS tentang jadwal kuliah yang tidak menentu) mengirimkan SMS:
“Bang, jangan lupa nanti ujian jam 11”.
Saya tentu saja kaget alang-alang kepalang, kemudian cek jadwal ujian di tembok samping cermin. Astagfirullah, benar jam 11 pagi. Biasanya jam dua siang. Syukur saya tidak ke mana-mana siang itu. Terima kasih Tien, kalau tidak karena jasamu, saya pasti kelimpungan buat ujian ulang. Semoga kau dapat jodoh seganteng Christian Sugiono.
Dan yang lebih dramatis, terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Karena hari itu tidak ada kuliah, jadi saya di kosan saja; bersihin kamar dan buka-buka buku. Kemudian terdengar kumandang azan. Saya pikir, daripada bengong di kosan, mending sholat dhuhur saja di masjid An Nur, masjid kebanggaan warga kompleks PJMI (termasuk Revalina S. Temat, lho). Saya kemudian ke masjid, jalan kaki saja. Sampai di pojok lapangan basket samping masjid, darah saya berdesir. Kaget. Kagum. Ada rasa bangga. Kau tahu, masjid di waktu dhuhur itu begitu penuh dengan jemaah. Sampai di luar-luar masjid. Yang tidak kebagian tempat ada yang duduk-duduk di bawah pohon-pohon tanjung di pinggir lapangan. Jangan dikata di teras masjid, semuanya duduk dan berdiri berdesakan. Pokoknya ramai. Saya sempat berangan-angan, inilah mungkin saatnya masjid-masjid penuh oleh jamaah sholat, padahal hanya sholat dhuhur saja, bukan sholat Ied. Apakah benar telah tiba saatnya? Ada luapan kegembiraan yang tidak bisa dijelaskan di hati ini.
Tapi tunggu, tumben pakai pengeras suara. Tidak biasanya. Selangkah demi selangkah saya mendekat untuk pastikan pendengaran saya. Mungkin ada acara nikahan. Ah, bukan. Ini lebih mirip khutbah Jumat.
Ya, lebih mirip khutbah Jumat.
Khutbah Jumat.
Jumat.
Jumat…
Detik itulah saya kemudian sadar. Ya Tuhan, ini ternyata hari Jumat. Tololnya saya. Ah, biarpun tidak ada manusia lain yang tahu, tapi malu juga rasanya pada diri sendiri dan semut merah yang berbaris di dinding, sambil menatapku curiga.
Sepertinya sudah parah penyakit lupa saya. Banyak janji yang tidak ditepati, semata-mata karena lupa. Banyak tugas kuliah yang jadi tergesa-gesa saya selesaikan. Banyak barang-barang yang saya lupa simpan di mana (bahkan HP J230i saya tidak bisa saya pastikan hilangnya tepat di mana). Saya sudah coba beli blocknote mini, lengkap dengan pulpen Pilot 0.4 yang edisi sepanjang jari tengah biar mudah diselipin di spiral blocknote. Maksud saya untuk mencatat apa saja jadwal janji atau jadwal dekat-dekat ini. Tapi malah sering kali saya lupa bawa pulpennya, atau blocknotenya juga lupa di bawa. Jadi percuma rencana strategis saya itu.
Saya jadi mikir, sepertinya saya butuh ikut tantangan Mizone delapan hari biar gak lupa lagi.





