Perlu tantangan Mizone delapan hari

Entah, saya jadi sering bertanya-tanya. Dosa apa yang saya bikin, sampai-sampai saya jadi pelupa begini. Sudah lupa, ditambah ceroboh pula.

Entah berapa kali saya kelewatan buat turun dari bus gara-gara tertidur. Sebentar…seingat saya, kalau tidak lupa, sudah tiga kali. Kali pertama waktu ke Kwitang, Senen (lagi-lagi di Senen). Dari Blok M saya tidur saja, perjalanan lama begini. Tiba-tiba saya bangun begitu saja, mungkin karena aturan jam biologis, dan mendapatkan saya sendirian di atas bus. Bus kosong melompong dan sudah terparkir di terminal Senen, sedang menunggu penumpang. Saya tanyakan ke sopirnya sudah lama apa baru sebentar saja bus ini sampai terminal. Sopirnya bilang: “Lah, mie gua saja udah masak begini (dia sedang makan mie rebus). Gua pikir lu mau balik lagi ke Blok M”.

Saya cuma bisa cengengesan.

Kali kedua waktu mau ke Pusda Jaksel di sekitar Mayestik. Sama juga, ketiduran. Saya bangun gara-gara dengar suara gruduk-gruduk orang turun dari bus di Terminal Blok M.

Kali ketiga tadi siang pas naik 71, sehabis melihat Aksi Sejuta Umat dan GreenFest di Senayan. Abang kondekturnya bangunin tepat di titik bus memutar di Kodam. “Mas turun di mana?”. Sambil kebingungan, sehabis terlelap, saya bilang, “D 05” (nama angkot ke arah kampus). “Sudah lewat, Mas. Kita mau balik lagi sekarang”. Arghh,,lagi-lagi.

Kemarin pas ujian, saya lupa kalau hari Rabu ujiannya jam 11 pagi (pagi atau siang, tak tahulah..). Syukur alhamdulillah, Tien (kawan yang selalu sabar mengirim SMS tentang jadwal kuliah yang tidak menentu) mengirimkan SMS:

“Bang, jangan lupa nanti ujian jam 11”.

Saya tentu saja kaget alang-alang kepalang, kemudian cek jadwal ujian di tembok samping cermin. Astagfirullah, benar jam 11 pagi. Biasanya jam dua siang. Syukur saya tidak ke mana-mana siang itu. Terima kasih Tien, kalau tidak karena jasamu, saya pasti kelimpungan buat ujian ulang. Semoga kau dapat jodoh seganteng Christian Sugiono.

Dan yang lebih dramatis, terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Karena hari itu tidak ada kuliah, jadi saya di kosan saja; bersihin kamar dan buka-buka buku. Kemudian terdengar kumandang azan. Saya pikir, daripada bengong di kosan, mending sholat dhuhur saja di masjid An Nur, masjid kebanggaan warga kompleks PJMI (termasuk Revalina S. Temat, lho). Saya kemudian ke masjid, jalan kaki saja. Sampai di pojok lapangan basket samping masjid, darah saya berdesir. Kaget. Kagum. Ada rasa bangga. Kau tahu, masjid di waktu dhuhur itu begitu penuh dengan jemaah. Sampai di luar-luar masjid. Yang tidak kebagian tempat ada yang duduk-duduk di bawah pohon-pohon tanjung di pinggir lapangan. Jangan dikata di teras masjid, semuanya duduk dan berdiri berdesakan. Pokoknya ramai. Saya sempat berangan-angan, inilah mungkin saatnya masjid-masjid penuh oleh jamaah sholat, padahal hanya sholat dhuhur saja, bukan sholat Ied. Apakah benar telah tiba saatnya? Ada luapan kegembiraan yang tidak bisa dijelaskan di hati ini.

Tapi tunggu, tumben pakai pengeras suara. Tidak biasanya. Selangkah demi selangkah saya mendekat untuk pastikan pendengaran saya. Mungkin ada acara nikahan. Ah, bukan. Ini lebih mirip khutbah Jumat.

Ya, lebih mirip khutbah Jumat.

Khutbah Jumat.

Jumat.

Jumat…

Detik itulah saya kemudian sadar. Ya Tuhan, ini ternyata hari Jumat. Tololnya saya. Ah, biarpun tidak ada manusia lain yang tahu, tapi malu juga rasanya pada diri sendiri dan semut merah yang berbaris di dinding, sambil menatapku curiga.

Sepertinya sudah parah penyakit lupa saya. Banyak janji yang tidak ditepati, semata-mata karena lupa. Banyak tugas kuliah yang jadi tergesa-gesa saya selesaikan. Banyak barang-barang yang saya lupa simpan di mana (bahkan HP J230i saya tidak bisa saya pastikan hilangnya tepat di mana). Saya sudah coba beli blocknote mini, lengkap dengan pulpen Pilot 0.4 yang edisi sepanjang jari tengah biar mudah diselipin di spiral blocknote. Maksud saya untuk mencatat apa saja jadwal janji atau jadwal dekat-dekat ini. Tapi malah sering kali saya lupa bawa pulpennya, atau blocknotenya juga lupa di bawa. Jadi percuma rencana strategis saya itu.

Saya jadi mikir, sepertinya saya butuh ikut tantangan Mizone delapan hari biar gak lupa lagi.

Saya Orang Indonesia

Tentang darah yang mengalir di tubuh ini, hanya satu hal yang bisa saya pastikan, bahwa darah ini adalah darah Indonesia. Memang benar, ayah orang Dompu-Bima, ibu orang Sumbawa, tapi siapa yang menjamin bila darah saya tidak bercampur dengan suku bangsa lain? Bukankah, Pulau Sumbawa berada di antara Lombok, Bali, Pulau Flores, Sulawesi, Maluku. Bukankah catatan sejarah mengatakan orang-orang Sumatera pernah datang ke Pulau Sumbawa, beberapa abad yang lampau? Atau mungkin saja ada prajurit Panglima Nala yang tidak kembali ke Pulau Jawa usai menyerang Kerajaan Dompo. Kampung kelahiran ayah saya bahkan bernama Kampung Bali.

Bukan bermaksud menyinggung SARA. Saya mungkin kadang merasa aneh, bila tiba-tiba orang berbicara kepada saya dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. Namun, tentulah masih bisa saya terima dan tidak masalah. Saya masih memaklumi, bukankah orang lebih senang berbicara dengan bahasa dan dialek daerahnya sendiri? Saya coba belajar sedikit-sedikit bahasa Jawa. Juga sedikit-sedikit untuk mengerti bahasa Sunda. Minang-pun begitu, mungkin karena kekaguman saya terhadap Bung Hatta dan Moh. Natsir. Seringkali saya harus mengganti saya dengan gua bila berbicara dengan orang Betawi. Tidak jarang, kata-kata “Bengak Kau “menjadi familiar di bibir dan telinga. Tapi yang tetap sulit; adalah mengeti bahasa Mandarin–selain kamsia, hopeng, dan cincay, kata-kata yang lain sangat susah dimengerti.

Seringkali, suku di bawa ke mana-mana. Dia suku inilah, suku itulah. Kelakuannya memang begitu-begini, khas suku ini. Mana bisa bekerja sama dengan dia yang bersuku itu. Dia suku itu, tidak cocok dengan kita. Memang di mana-mana suku itu sifatnya sama saja. Dan yang sungguh mematahkan harapan bagi sebagian orang; kita tidak sesuku, sulit untuk berjodoh. Arghhh…

Kenapa harus mengedepankan suku? Bukankah semuanya bisa melebur, tanpa meninggalkan ciri khas kebaikannya masing-masing? Oleh cinta misalnya. Kita mungkin sangat susah menemukan nama Siliwangi sebagai nama jalan di Jawa Timur. Kita juga pasti kesulitan untuk menemukan nama Hayam Wuruk sebagai nama jalan di Jawa Barat. Namun kenyataannya, kita tidak kesulitan menemukan orang Jawa dan Sunda berjodoh dan menikah. Sejarah Majapahit-Padjajaran tentu bukanlah pertimbangan untuk menjalin hubungan pernikahan. Biarkan itu urusan raja-raja zaman dahulu, kenapa sampai sekarang harus dijadikan beban pikiran?

Kita semua sungguh sangat menyesal dengan ketidakadilan Jakarta kepada Serambi Mekah. Siapa yang tidak sakit hati bila dijadikan anak tiri, sedang pesawat terbang pertama Indonesia saja berasal dari sumbangan rakyat Aceh. Wajar saja bila Daud Baeureuh mengangkat senjata. Sekarang, biarkan saudara-sadara kita di Aceh menutup dan mengobati lukanya. Bila masih sensitif mengenai suku, itu adalah harga yang harus dibayar atas ketidakadilan itu. Namun, adalah bijak untuk yakin bahwa perasaan itu akan segera memudar dan menghilang. Saling memaafkan. Amien.

Hilangkan chauivinisme ekstrim di dalam diri. Bukankah di mata Tuhan semua sama, hanya ibadah dan kebaikannya saja yang membedakan. Menyandang nama suku tentu merupakan sebuah kebanggaan. Saya bangga dengan Dompu-Samawa saya. Namun saya selalu berusaha tiada pernah memandang rendah. Karena saya sangat merasakan betapa indahnya berinteraksi dengan suku-suku lain. Sungguh senang rasanya saat bercanda bebas dengan orang Batak dan Jawa Timur, kau bilang bengak atau jan**k pun mereka tidak marah, bahkan menjadi bahan canda-ria. Sungguh damai rasanya berbicara dengan orang Solo yang lembut-gemulai. Sungguh unik rasanya berbincang dengan orang Sunda yang dialeknya begitu khas dan menarik. Dan frekuensi suara yang masuk di telinga terdengar berirama, naik-turun, dan punya nada, saat berbicara dengan orang Sasak dan Makassar.

Seringkali saya merenung dan sadar, betapa menariknya interaksi ini. Interaksi antara suku-suku yang berbeda bahasa ibu, lentik mata, rambut ikal, alis tebal, kulit gelap nan eksotis, hingga tingkat kepedesan makanan yang bisa ditoleril oleh lidah. Kesemuanya ini membuat saya berbangga hati untuk menjadi rakyat negeri ini; menjadi rakyat Indonesia, menjadi orang Indonesia.

Ya… Saya orang Indonesia.

Doa (Calon) PNS

Tuhanku

Bila tenaga, waktu dan pikiranku dapat aku sumbangkan untuk negeri ini

Jadikan tenaga, waktu dan pikiranku benar-benar bermanfaat untuk negeri ini

Tuhanku

Bila tugas negara yang diembankan kepadaku begitu berat

Jadikan itu ringan saja karena aku tahu bahwa waktu, tenaga dan pikiranku bisa bermanfaat untuk negeri ini

Tuhanku

Bila aku ditempatkan pada instansi yang sesuai minatku

Jadikan aku semakin bersemangat dan tiada lupa diri

Tuhanku

Bila aku ditempatkan pada instansi yang bukan minatku

Jadikan aku tiada kehilangan semangat dan tiada frustasi

Tuhanku

Bila aku akan kehilangan semangat dan frustasi karena jauh dari minatku

Pilihkan instansi yang menjadi minatku untuk diriku

Tuhanku

Bila diriku ditugaskan di daerah dan kota yang penuh keramaian

Jadikan diriku tetap tenang dari kebisingan sekitarku

Tuhanku

Bila diriku ditugaskan di tempat terpencil dan jauh dari keramaian

Jadikanlah tempat itu adalah tempat terindah untuk aku diami

Tuhanku

Bila aku diberikan uang suap bertumpuk-tumpuk yang jelas bukan hakku

Maka kuatkan hatiku untuk menolak dan gantikan dengan uang dari jalan lain yang menjadi hakku

Hingga aku tak terpengaruh dengan uang-uang suap itu

Tuhanku

Bila aku digoda oleh wanita cantik nan semlohai agar aku korupsi

Maka kuatkan hatiku untuk menolak dan pilihkan istriku yang solihah dan tak kalah manis

Hingga aku tak terpengaruh oleh bujuk rayu untuk menyuapku

Tuhanku

Inilah doaku

Tiada tempat lain diriku untuk mengadu

Terinsiprasi begitu saja saat menuruni lereng Gunung Merbabu, Jalur Selo, 5 April 2008

sisi kredit untuk ”amplop” bukan other income

Kuliah Etika Profesi. Sebenarnya agak malas juga, pasti dosennya sudah tua dan dosen yang sudah tua (yang pikirannya sudah tidak ”muda” lagi) seringkali terlalu banyak mendikte pendapatnya sendiri. Ingin memperjuangkan pendapat sendiri—khas idealisme anak muda—sudah tak enak hati. Takut menyinggung perasaaan. Jadinya lebih menyenangkan terkantuk-lantuk di kursi sambil baca-baca yang bisa dibaca: novel, komik, sampai koran pagi harga seribuan yang sedikit ribet dibuka-buka.

Ternyata di luar sangkaan. Saat masuk kelas, serasa kenal dan pernah lihat dosen yang duduk di depan. Siapa dia, seperti familiar saja. Ingat-ingat. Aha, tidak bisa tidak, sosok energik itu tentulah Amoen Jogasara. Setelah mendengar bagaimana integritasnya orang ini dari orang-orang, pastilah menarik mengikuti mata kuliahnya.

Tapi terasa aneh, orang yang biasa bercanda sesuka-hati ini dengan junior-juniornya, tiba-tiba jadi dosen dalam suasana kuliah. Bagaimana cara menempatkan diri? Tapi syukurlah, ”Biarpun saya dan dia sama-sama anggota Stapala, tapi saya di sini tetaplah dosen. Seperti pernah saya mengajar anak saya, memang ada konflik interest. Namun ingat, hubungan kita tetap mahasiswa-dosen”, katanya. Hmm, jadi tenang rasanya. Memang Amoen Jogasara adalah salah satu sesepuh Stapala dengan nomor 058, jauh benar dengan 810, hampir berbeda tiga dasawarsa.

Pengantarnya cukup menarik. Setelah sempat membagikan angket berisi kata-kata yang harus didefinisikan menurut pribadi masing-masing kepada mahasiswa: moral, integritas, etika, tanggungjawab, hak, kejujuran, dll, beliau mengaku untuk pengantar hanya mangajar sedikit jurnal saja. Sederhana saja, tapi inilah yang menarik. Semenarik mengira-ngira apa hubungannya antara jurnal akuntansi dan etika.

Beliau bertanya tentang jurnal untuk penjualan. Secara sudah bergelut dua setengah tahun dengan akuntansi, tentu ini pertanyaan di luar kepala. Tentu saja: Cash-Sales, kemudian: Cost of good sales pada Inventory. Bagaimana dengan pembelian? Tentu saja: Inventory-Cash. Ditambah dengan segala PPN-in/out-nya. Pendapatan tunai bagaimana? Tentu saja: Cash-Revenue. Lalu bagaimana dengan bonus atau THR? Mungkin bisa dimasukkan ke cash-other revenue income. Ok, bagaimana dengan amplop? Sampai di pertanyaan ini, beliau berhasil membuat bingung kami sekelas.

Amplop?

Amplop, yang seterusnya ditulis dengan cetak miring, artinya uang yang dimasukkan ke dalam amplop (atau dalam bentuk lain) sebagai hadiah, suap, sogokan, uang pelican dan istilah-istilah lainnya. Mau tidak mau, dalam birokrasi pemerintah peninggalan orde yang lampau ini, amplop niscaya ada. Biasanya berasal dari atasan, entah dari mana sumbernya dan bisa juga dari klien, dari instansi yang diperiksa atau dari wajib pajak yang ingin menggelapkan pajaknya. Walaupun tengah terjadi refomasi birokasi, namun untuk beberapa tahun ke depan, amplop tentulah masih ada. Sebuah kenyataan yang harus dipikirkan bagaimana cara menghadapinya.

Amplop bisa saja dimasukkan dalam other income (pendapatan lain-lain). Namun bila menurut pada hati, moral, etika, ajaran agama dan dicocokkan dengan definisi pendapatan, amplop bukanlah other income. Sudah jelas, pendapatan adalah hasil kerja yang merupakan hak. Inilah masalahnya, sedang amplop bukanlah hak kita. Bila merunut pada uang-uang yang digunakan pemerintah dan BUMN adalah uang rakyat, maka amplop adalah hak rakyat. Amplop bukanlah hak kita. Sebuah kenyataan yang membuat menyesal setengah mati menjadi pegawai negeri, yang mana amplop seringkali didapatkan, berisi uang-uang, dan tidak diketahui oleh orang lain, namun bukan menjadi hak kita dan selain dua pihak yang memberi-menerima amplop, Tuhan juga mengetahuinya.

Perlakuan Jurnalnya?

Lalu jurnalnya apa? Beliau mengetengahkah alternatif; bagaimana bila kita ganti dengan A/P (Account Payable) alias Utang? Bisa saja. Setidaknya menjelaskan bahwa cash yang kita terima adalah kewajiban kepada pihak lain yang harus ditunaikan. Artinya, cash tersebut adalah hak pihak lain. Lalu pihak yang mana? Tentu saja rakyat. Lalu bagaimana cara mengembalikannya?

Memberikan kepada peminta-minta bukan hal yang salah. Atau memberikan untuk pembangunan masjid, gereja, pura, jalan, gang-gang, dan fasilitas umum lainnya. Atau kepada yayasan-yayasan yang melayani kaum duafa, jompo, yatim-piatu dan anak jalanan. Namun, karena para peminta-minta tidak memberikan struk, dan sulitnya beralasan kepada pemeriksa dan KPK bahwa pembangunan fasilitas umum dan sumbangan yayasan toh untuk negara juga, maka perlulah ditempuh cara lain.

Alternatif untuk Amplop?

Cara lain tersebut adalah menyetorkan uang-uang tersebut ke kas negara. Ada semacam formulir yang disebut dengan Bukti Setor Kas Negara sebagai bukti bahwa kita telah menyetor sejumlah uang ka kas negara untuk tujuan tertentu. Bukti inilah yang disimpan dan kemudian dapat ditunjukan kepada pemeriksa atau KPK. Setidaknya untuk membuktikan bahwa kita tidak menikmati uang negara yang bukan hak dan tidak merugikan keuangan negara, suatu syarat dasar untuk dijerat oleh UU KPK.

Ada cara lain. Tidak perlu pusing membuat jurnal. Kita cukup tidak menerima amplop dari atasan atau instansi yang dperiksa, dan langsung melaporkan kepada itjen, BPK, atau KPK. Menjadi wistler blower. Namun resikonya, akan dimusuhi orang-orang, dijauhi seperti pengidap AIDS, dikucilkan, dan dianggap sebagai pahlawan kesiangan. Untuk menjadi wistler blower, saya sendiri mengaku tidak mampu. Sebagai mahasiswa yang nantinya lulusan D3 dan nantinya hanya sebagai pelaksana di kantor, menjadi wistler blower sama halnya menjadi pahlawan kesiangan dan itu sama halnya bunuh diri. Kecuali bila saya dapat beasiswa ke luar negeri, jadi kepala kantor, atau kemudian jadi menteri keuangan. Janji, saya tidak akan menerima amplop apapun (ya iyalah…masa ya iya-iya dong).

Ingat-ingat, jurnal untuk amplop adalah cash pada account payable. Account Payable ini tetap bentuknya utang. Kalaulah tidak ditunaikan di dunia, tentulah di akhirat tetap ditagih oleh dua ratus juta lebih jiwa yang hidup di negeri Indonesia.

Yah, semoga saya sendiri ingat.