Pelajaran pertama kalau naik bus ke Jakarta: pastikan bus yang kita tumpangi tidak sampai larut malam saat tibanya di Jakarta. Ini point penting, agar tidak terjadi hal-hal yang di luar rencana nantinya. Seperti yang saya alami Selasa dini hari kemarin. Kisahnya begini.
Berhubung adik saya mendaftar UM UGM di Jogja dan atas pertimbangan Jakarta-Jogja tidaklah jauh dibandingkan Jakarta-Dompu, bukanlah ide buruk untuk menengok dia di sana, satu hal yang hanya bisa saya alami setahun sekali. Berangkat ke Jogja Sabtu sore dan balik lagi ke Jakarta Senin pagi. Hanya satu hari saja di sana, soalnya Rabu saya ujian, dan belum banyak bahan ujian yang masuk di kepala.
Dari Jogja naik bus ke Purwokerto dari Giwangan. Sebenarnya mau naik kereta eksekutif atau bus eksekutif (sekali-sekali boleh lah
) namun karena ada libur bersama empat hari, hari Senin tiket kereta di Stasiun Tugu dan tiket bus ke Jakarta habis semuah. Dari purwokerto naik patas ke Pulo Gadung.
Harusnya bisa sampai ke Jakarta jam 9 malam tapi supir busnya kalem tak terperi, bikin nggak sabaran. Bus dikendarai pelan-pelan. Kagak tahan dah pelannya. Awalnya saya kira perasaan saya saja yang merasa bus itu lambat, ternyata para penumpang lain juga mengeluhkan hal serupa. Alhasil, busnya sampai jam 12 belas malam di Pulo Gadung.
Cari bus ke Blok M, tentu saja nggak ada. Mau tidur di terminal, jelas saya nggak niat. Itu terminal siang yang terang benderang saja isinya preman, apalagi kalau kalau malam hari. Dan alhamdulillah, ada mikrolet ke arah Senen. Yah, yang penting menjauh saja dari terminal mengerikan itu.
Turun dari mikrolet di bawah jalan layang Atrium Senen, di sinilah inti ceritanya, letak pelajaran pentingnya, dan sisi kebenaran moralnya. Baru beberapa langkah berjalan, sekoyong-koyong datang laki-laki dandanan khas preman (dan beberapa detik kemudian saya tahu dia preman). Tangan kanannya menepuk bahu saya dan saya pun menoleh. Bukan tangan kanannya yang jadi masalah, tapi tangan kirinya, Kawan. Berkilat-kilat di bawah temaram lampu ada sebilah pisai digenggam di tangan kirinya. Alamak, saya berhadapan dengan masalah serius sekarang.
Hal pertama yang saya pikirkan pasti orang ini tukang palak orang. Hal kedua yang terpikirkan adalah kamera Nikon L2 saya. Biarpun itu camdig poket biasa, tapi saya beli itu dengan keringat saya sendiri. Tidak rela rasanya kalau kamera saya dirampas begitu saja. Hal ketiga yang saya pikirkan adalah ibu saya.
Ok, tenangkan dirimu, Ris. Kau tak akan mati hanya dengan pisau itu.
Saya yakin saya nggak akan mari gara-gara pisau itu. Mata pisau itu pendek saja, hanya setengah jengkal. Di kampung, tidaklah aneh melihat parang, bahkan parang yang sepajang pinggang hingga mata kaki. Tapi saya yakin saya pasti terluka kalau melawan.Orang model seperti ini pasti tidak segan-segan menusuk orang demi uang belasan ribu dan saya tentu saja tidak mau ditusuk cuma gara-gara uang belasan ribu.
Saya pikir, tidak keren terluka ditusuk preman, tidak ada kebanggaan sama sekali. Apa kata orang-orang, terlebih ibu saya kalau saya terluka oleh tukang palak orang. Di sinilah letak pertimbangannya.
Kalau teriak, orang-orang di seberang pasti mendengar. Tapi ini terlalu beresiko. Jarak dari orang terdekat mungkin 100 meter. Setidaknya si tukang palak itu bisa menusukkan pisaunya satu-dua kali ke badan saya, kemudian lari. Terlalu beresiko dan terlalu konyol.
Ok, negosisasi. Negosiasi. Kau pernah baca Yugo Sang Negosiator? Seperti cool-nya tampang Yugo, tampang saya waktu itu. Saya berusaha bersikap biasa, seperti ketemu kawan lama saja.
”HP-nya, Cuy. Gua minta baik-baik, sebelum gua pake kekerasan. Lu pasti nggak mau”
Dia minta hendphone. Aha, dia nggak tahu handphone saya jatuh berkeping-keping di kamar mandi di Giwangan. Karena kesal, tidak kupasang lagi, toh keypadnya lenyap, jatuh di kloset. Saya tunjukkan hape saya, kemudian bilang:
”Bang, hape saya rusak. Tadi jatuh di kloset. Nggak kelihatan lagi rupanya. Kalau Abang jualpun kalaupun laku, pasti tak seberapa”
Dia memandang sebentar kepingan HP di tangan saya. Sepertinya dia tak tertarik. Ok, berhasil, HP saya selamat.
Dia mengisyaratkan untuk membuka ransel. Oh, saya memandang sekitar, berharap ada yang melihat, sia-sia tidak ada yang memandang ke arah kami. Saya tunjukkan isi ransel saya. Camdig saya terselip dibalik kertas-kertas soal.
”Nggak ada apa-apa, cuma baju sama kertas. Buku-buku”, karena akan ujian, saya bawa banyak bahan ujian ke Jogja.
”Duit lu ada berapa?”, ini preman sedikit bicara. Kilau pisaunyalah yang lebih banyak bicara. Lebih taste. Pisaunya diputar-putar dengan jempolnya.
”Kalau mau, saya cuma punya uang 30 ribu. Kalau abang ambil semua, saya nggak bisa sampai Bintaro. Ambillah setengah saja”, saya seperti bicara dengan rekan bisnis krupuk saja, tawar menawar harga.
Dia setuju. Saya beri dia 15 ribu. Dan kau tahu, setelah itu saya ulurkan tangan untuk bersalaman sama tukang palak itu. Dia menyambut. Saya tersenyum, namun dia diam saja, mungkin memikirkan betapa anehnya relasi antara tukang palak dan korban palak ini.
”Saya ke Bintaro dulu Bang”, saya lambaikan tangan dan berbalik.
Ufhh, alhamdulillah. Tidak ada yang luka. Tidak ada darah yang mengalir. Tidak jadi masuk Warta Kota.
Saya tunjukkan telunjuk saya tinggi-tinggi ke atas langit.
”Engkau…Ya, Engkau. Tidak sedetikpun memalingkan pandanganMu dariku”
Entah kenapa, saya terharu rasanya.








